PROFIL PIK-R SRIKANDI SMKN 1 SUMENEP
Remaja merupakan salah satu tahap dalam kehidupan
dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, suatu tahap perkembangan yang sudah
dimulai namun yang pasti setiap laki-laki maupun perempuan akan mengalami suatu
perubahan-perubahan yang terjadi pada diri remaja adalah munculnya
dorongan-dorongan seks, perasaan yang terjadi pada remaja menimbulkan berbagai
bentuk ekspresi hubungan seks. Pendidikan di Indonesia, sebagaimana tercantum dalam
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
dan bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis
serta bertanggung jawab.Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara
aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukandirinya, masyarakat, bangsa dan
negara.Penyelenggaraan pendidikan yang dikembangkan mencakup empat aspek
kecerdasan, yaitu kecerdasan spiritual (untuk memperteguh keimanan dan
ketaqwaan, meningkatkan akhlak mulia, budi pekerti atau moral dan
kewirausahaan); kecerdasan intelektual (membangun kompetensi dan kemandirian
ilmu pengetahuan dan teknologi); kecerdasan emosional (meningkatkan
sensitivitas, daya apresiasi, daya kreasi, serta daya ekspresi seni dan
budaya), dan kecerdasan kinestetis (meningkatkan kesehatan, kebugaran, daya tahan,
kesigapan fisik, dan keterampilan).
Siswa/Remaja adalah adalah salah satu sasaran
utama bagi bangsa dalam mewujudkan kelangsungan masa depan negara yang
terintegritas, Namun berbeda dengan zamannya remaja masa kini. Perilaku remaja
dikalangan umum sangatlah memperhatinkan ( Seks Pranikah, Pergaulan bebas, Geng
Motor, Tawuran, serta menikah diusia yang kita anggap masih dini). Selain itu
ditinjau dari kependudukan tahun 2010 jumlah remaja adalah kurang lebih 64 juta
atau sekitar 27,6 % dari total penduduk indonesia. Remaja dengan segala
permasalahannya adalah issue strategis untuk pembangunan nasional, mengingat
usia remaja (10-24 tahun) cukup besar, yang merupakan cikal bakal penduduk
produktif yang akan berkontribusi dalam memanfaatkan peluang bonus demografi.
Atas dasar itulah remaja perlu dipersiapkan menjadi generasi yang produktif
yaitu remaja yang menyelesaikan pendidikan, berkarir dalam pekerjaan,
merencanakan dalam berkeluarga, berprestasi dalam masyarakat serta
mempraktekkan hidup sehat.
Jumlah dan proporsi remaja yang sangat besar
tersebut, akan mempengaruhi jumlah penduduk dimasa mendatang, ketika sebagian
generasi ini akan segera memasuki masa Reproduksi . Data SDKI 2007 menunjukkan
bahwa median usia perkawinan pertama perempuan indonesia relatif masih muda
(19,8 Tahun). Masih rendahnya median usia kawin pertama perempuan ini akan
berakibat pada tingginya angka total Fertility Rate yang saat ini berada pada
angka 2,6 (SDKI 2012), yang akan diturunkan menjadi 2,1 pada tahun 2014. Fakta
dilapangan yang ditemukan oleh Bappenas (2008) menunjukkan bahwa 34,5% dari
2.049.000 perkawinan pada tahun 2008 adalah perkawinan anak. Hal serupa
ditunjjukkan oleh Riset Kesehatan Dasar (2010) yang menemukan bahwa pernikahan
usia 10-14 tahun sebesar 4,8 %.
Pernikahan dini membawa dampak negatif. Jika dikaitkan dengan antara
pernikahan dini dan KDRT, penelitian Plan Indonesia (2011), di 8 kabupaten
(Indramayu, Grobogan, Rembang, Tabanan, Dumpo, Timor Tengah, Sikka dan Lembata)
menemukan bahwa 44% anak perempuan yang menikah dini mengalami KDRT dengan
frekuensi tinggi, dan sisinya 56% denga frekuensi rendah dan 33,5% anak usia
13-18 tahun pernah menikah, dan rata rata mereka usia 16 tahun. Jumlah kasus
HIV dan AIDS yang dilaporkan 1 januari sampai 30 september 2012 adalah 15.372
untuk HIV dan 3.541 untuk AIDS. Sedangkan secara komulatif, kasus HIV dan AIDS
sampai dengan 30 September 2012 adalah 92.251 untuk HIV dan 39.434 untuk AIDS
(Kemenkesm september 2012). Data ini merupakan fenomena gunung es artinya data tersebut
hanya yang dilaporkan. Sedangkan menurut data BNN tahun 2012, total tersangka
penyalahgunaan narkoba adalah 32.743. dari jumlah tersebut, 1.944 adlah mereka
yang berada pada kelompok usia 20-24 tahun adalah 5.057.
Dalam rangka menanggapi gagasan diatas diseimbangkan dengan dinamika di kabupaten
sumenep khususnya lingkungan sekolah, dipandang perlu untuk merumuskan
perencanaan dalam meminimaliris kesenjangan sosial antara peran orang tua,
guru, tokoh dan pemerintah. Remaja pada umumnya tidak lagi berbicara bagaimana
menjadi idola karena prestasi akan tetapi berbicara tentang, ini kepunyaan ku
dan ini adalah milikku (Kekinian), selanjutnya ditinjau dari aspek sosial
remaja terpicu kepada pergaulan yang mengakibatkan ketergantungan sehingga
dapat memotong perencanaan masa depan remaja, juga disambungkan dengan
kesehatan dalam bersikap, berpikir serta memutuskan, tidak lagi melalui
kebutuhan yang berkepanjangan karena pemahaman tentang bagaimana kesiapan dalam
melanjutkan pendidikan dan keluarga begitu rendah. Hal ini tidak hanya terjadi
dilingkungan sosial remaja melainkan ada beberapa perlakuan yang hampir sama
antara keberadaan remaja dilingkungan sekolah (minat belajar menurun, pergaulan
yang bersifat agresif, kekinian mulai mendesak, merasa tidak lagi ingin
berjuang, menurunnya mental, kurangnya kepercayaan diri serta peran orang yang
minim untuk menjelaskan bagaimna mempraktekkan komunikasi efektif agar mudah
diterima oleh anak remajanya.
Kabupaten visit 2018 adalah dambaan bagi pemerintah dengan beberapa
kekayaan alam serta budaya yang lebih dikenal dengan sebutan kota keraton juga
telah mencatat sejarah kelam sama halnya yang sudah dilakukan oleh para pejuang
remaja masa tahun-tahun dulu. Namun tidak terlepas dari kekayaan sejarah atau
perjuangan melainkan serangan untuk mempublikasikan kesenangan yang mendorong
kerusakan bagi masa depan remaja juga mulai terjadi dan berkembang pesat, Baik
dipergaulan bebas (Narkoba,obat-obatan terlarang dll), putus sekolah, menikah
dini juga seks pranikah yang mungkin akan segera terjadi, Allahu Aklam,
selain itu juga didukung dengan data BNNK Sumenep tahun 2013 total tesangka
penyalahgunaan Narkoba 15% . Dari jumlah
tersebut 25%, adalah mereka yang berada pada kelompok usia 13-19 dan kelompok
usia 19-24 adalah Pernikahan Dini . Data tersebut merupakan gunung es, yaitu data
yang dilaporkan saja. Ini adalah gambaran dasar bagaimana pentingnya
keterlibatan semua pihak dalam membangun SDM khususnya remaja yang berkembang
dan tumbuh sesuai modereniasasinya.
Oleh karena itu upaya yang dilakukan untuk
mengatasi dan merubah berbagai kondisi di atas adalah melalui Pendewasaan Usia
Perkawinan yang dikemas dengan Program GenRe. Melalui program GenRe ini remaja
diberikan pengetahuan dan pemahaman tentang perlunya menunda usia perkawinan
dilihat dari sudut pandang kesehatan, Psikologis dan ekonomi serta kependudukan
sehingga akan mengubah sikap dan perilaku Remaja/Mahasiswa. Selain itu juga Dengan dilandasi latar belakang problematika remaja/Mahasiswa Program GenRe
lintas Pendidikan dan Kemasyarakatan dibentuk dengan tujuan pokok :
Menghimpun ide, pemikiran, bakat, kreativitas, serta minat para siswa/Remaja
dan Mahasiswa ke dalam salah satu wadah yang mendorong sikap, jiwa dan semangat
kasatuan dan persatuan di antara para siswa/remaja dan mahasiswa, sehingga
timbul satu kebanggaan untuk mendukung peran program GenRe dan pendidikan
sebagai tempat terselenggaranya proses belajar dan melatih diriguna untuk
berkomunikasi, menyampaikan pemikiran, dan gagasan dalam usaha untuk mengalihkan
pikiran negatif serta menjadi sumber informasi bagi teman sebayanya agar dapat
menepis beberapa keadaan yang mengancam masa depan remaja.
Dalam rangka merespon dan
mengaplikasikan gagasan seperti halnya telah dikemukakan pada bagian
sebelumnya, berangkat dari PIK-R SRIKANDI SMKN 1 Sumenep perlu memberikan
informasi yang berkaitan dengan penyiapan diri Remaja menyongsong kehidupan
yang berkeluarga untuk lebih baik sesuai harapan bangsa dan negara, menyiapkan
pribadi yang matang dalam membangun keluarga yang harmonis, dan menetapkan
perencanaan dalam menata kehidupan untuk keharmonisan keluarga. Hal tersebut
juga merupakan implementasi Undang-Undang nomor 52 tahun 2009, tentang
perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga, pasal 48 ayat 1 (b) yang
menyatakan bahwa “ peningkatan kualitas remaja dengan pemberian akses
informasi, pendidikan, konseling dan pelayanan tentang kehidupan berkeluarga”.
Dengan harapan PIK-R SRIKANDI SMKN 1
Sumenep menjadi garda terdepan dalam
mewujudkan 5 (lima) transisi kehidupan
remaja :
1.
Melanjutkan sekolah (continue learning)
2.
Mencari pekerjaan (start working)
3.
Memulai kehidupan berkeluarga (form families)
4.
Menjadi anggota masyarakat (exercise citizenship)
5.
Mempraktekkan hidup sehat (practice healthy life).
B. Sejarah Singkat Pendirian PIK-R SRIKANDI SMKN 1 Sumenep
Jumlah dan proporsi remaja yang sangat
besar , akan mempengaruhi jumlah penduduk dimasa mendatang, ketika sebagian
generasi ini akan segera memasuki masa Reproduksi . Data SDKI 2007 menunjukkan
bahwa median usia perkawinan pertama perempuan indonesia relatif masih muda
(19,8 Tahun). Masih rendahnya median usia kawin pertama perempuan ini akan
berakibat pada tingginya angka total Fertility Rate yang saat ini berada pada
angka 2,6 (SDKI 2012), yang akan diturunkan menjadi 2,1 pada tahun 2014. Fakta
dilapangan yang ditemukan oleh Bappenas (2008) menunjukkan bahwa 34,5% dari
2.049.000 perkawinan pada tahun 2008 adalah perkawinan anak. Hal serupa
ditunjjukkan oleh Riset Kesehatan Dasar (2010) yang menemukan bahwa pernikahan
usia 10-14 tahun sebesar 4,8 %.
Kabupaten visit 2018 adalah dambaan bagi pemerintah
dengan beberapa kekayaan alam serta budaya yang lebih dikenal dengan sebutan
kota keraton juga telah mencatat sejarah kelam sama halnya yang sudah dilakukan
oleh para pejuang remaja masa tahun-tahun dulu, guna mewujudkan pemberdayaan
SDM yang berkualitas. Namun dinamika kabupaten sumenep tidak terlepas hanya
dari kekayaan sejarah atau perjuangan melainkan serangan untuk mempublis
kesenangan yang mendorong kerusakan bagi masa depan remaja juga mulai terjadi
dan berkembang pesat, Baik dipergaulan bebas (Narkoba,obat-obatan terlarang
dll), putus sekolah, menikah dini juga seks pranikah yang mungkin akan segera
terjadi, Allahu Aklam, selain itu juga didukung dengan data BNNK Sumenep
tahun 2013 total tesangka penyalahgunaan Narkoba 15% . Dari jumlah tersebut 25%, adalah mereka
yang berada pada kelompok usia 13-19 dan kelompok usia 19-24 adalah Pernikahan
Dini .
Data tersebut
merupakan gunung es, yaitu data yang dilaporkan saja. Ini adalah gambaran dasar
bagaimana pentingnya keterlibatan semua pihak dalam membangun SDM khususnya
remaja yang berkembang dan tumbuh sesuai modereniasasinya.
Fungsi
keluarga,tidak hanya seperti negara. Ada pimpinan, menteri, rakyat, kebijakan,
dan aturan. Karena dengan begitulah, keluarga menjadi hidup, hangat, dan
produktif. Termasuk diantaranya oleh masalah ekonomi keluarga, pekerjaan orang
tua dan hubungan keluarga dengan masyarakat sekitar. Perubahan tersebut
mengarah pada bentuk interaksi antar anak dan hubungan antar anak dengan orang
tua yang semakin kurang akrab, kurang dinamis dan semakin renggang bahkan hal
ini mengakibatkan tidak betahnya anak dan remaja berada di rumah, kendati pun berada
di dalam rumah (Sunarti dalam Penyiapan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja, 2010
).
Fungsi
sekolah. Memang bukan merupakan sebuah keniscayaan, akan tetapi diyakini bahwa
keberhasilan di sekolah mengawali kesuksesan-kesuksesan yang lain dalam hidup.
Sementara itu nilai sosial pendidikan semakin tinggi dan menjadi sasaran
kompetisi. Hal ini disebabkan oleh keinginan kuat orang tua dan sistem
persekolahan serta pendidikan yang menunut setiap siswa untuk berprestasi dan
menjadi juara pada semua mata pelajaran. Dengan asumsi bahwa, semakin tinggi
tingkat pendidikan dan semakin banyak prestasi yang diraih, akan semakin baik
jenis pekerjaan yang akan diperoleh di masa mendatang. Fungsi masyarakat.
Kehidupan yang induvidualistik yang semula hanya dirasakan masyarakat
perkotaan, saat ini sedikit banyak mulai merambat ke pedesaan, menggeser
nilai-nilai dan tradisi gotong royong. Orang-orang mulai merasa tidak punya
waktu untuk mengetahui atau memikirkan kehidupan orang lain. Sebagai akibat,
remaja menjadi terasing dalam kehidupan masyarakat. Hanya fisik meraka saja
yang merupakan bagian dari anggota masyarakat akan tetapi tidak secara
emosional. Remaja sekarang ini bukan hanya tidak kerasaan di rumah dan di
sekolah akan tetapi juga terasing di lingkungan masyarakatnya.
Berangkat
dari kegelisahan dan gagasan diatas perlu kesimbangan bagaimana penyaluran dan
penempatan bagi seluruh siswa-siswi SMKN 1 Sumenep, ( yang pintar maka
ditempatkan ditempat yang layak, yang berprestasi maka akan ditempatkan dan
ditampilkan dengan keistimewaan, lalu bagaimna dengan siswa yang tidak berani menonjolkan dalam berkompetisi secara akademik dan non
akademik.???, padahal sewajarnya kesamaan dalam pelayanan dan pembinaan bagi
peserta didik harus merata ), tidak hanya pandangan dari dinamika dunia
persekolahan melainkan mempresentasikan dari beberapa aspek, salah satunya
adalah (perkembangan kriminalisasi diri bagi remaja, kurangnya pengetahuan
dalam merencanakan masa depan, kurangnya melatih diri untuk bisa menghindari
beberapa resiko kesehatan dan kurangnya layanan penempatan bagi siswa yang terasingkan
untuk mengaplikasikan kemampuan diri yang berbasis perkembangan remaja).
Dengan demikian muncullah pemikiran 7 Siswa-siswi
(Siti khadijah, suryanti, nurfadilah, igo prayogi, khalimatus sughro, yusuf
surgana putra) yang kemudian di satukan dan dikembangkan oleh salah satu
Mahasiswa Praktek Inisial F, untuk mengkordinasikan serta memberikan stimulus
dalam membaca keadaan diri dan teman-temanya. Tak berhenti memberikan
penjelasan dan pengayoman untuk siswa-siswi yang merasa tidak terlalu layak
untuk tampil dibandingkan dengan siswa-siswi yang dipilih. Selanjutnya dengan
berjalanya waktu pemahaman dan misipun mulai sama, dilanjut dengan musyawarah
pembentukan suatu wadah yang berbasis keremajaan, disambut dengan program GenRe
yang sempat disosialisasikan oleh pemangku kebijkan tentang GenRe dikab.
Sumenep maka disepakatilah untuk membentuk PIK-R/ Pusat Informasi dan Konseling
Remaja dengan nama : PIK-R SRIKANDI SMKN 1 Sumenep atau arti singakatan Siswa
Rajin Inovatif Kreatif Aktif daN Disiplin, di dampingi salah satu guru
BK yaitu Pak. Muzammil, Bu vivin dan bu inge, yang didasari oleh Peraturan dan
dilindungi oleh kepala sekolah SMKN 1 Sumenep.
Semangat untuk berkembang selalu diperlihatkan salah
satunya sosialisasi serta mengadakan rekrutmen anggota baru PIK-R SRIKANDI guna
menambah SDM dan melanjutkan estafed perjuangan, dikemaslah kegaiatan yang
bernama LTC (leadership training camp I ). Walaupun ada sedikit permasalahan
yang terjadi dalam lingkup organisasi sekolah. Pernah “suatu ketika kami
terjatuh dalam masa yang sulit, terjebak dalam permasalahan yang membuat kami
kesulitan bergerak dalam lingkup organisasi sekolah, karena bedanya persepsi
antara Osis dengan pembinya pada waktu deklarasi, namun kami pun berusaha tetap
tegar, juga memberikan pemahaman atas tujuan yang kami targetkan. Seiring
berjalannya waktu PIK-R SRIKANDI pun mulai
menjalankan kegiatan dan menuangkan pikiran – pikiran dalam bentuk program
sehingga PIK-R SRIKANDI pun mulai dikenal oleh Guru dan pembina ekstrakurikuler
disekolah beserta PIK-R/M yang lain.
PIK-R SRIKANDI ini bagaikan air yang terhenti oleh
batu-batu sehigga tidak dapat mengalir
dengan lancar seperti biasanya, sebab di karenakan kurangnya waktu
senggang, tetapi optimisme mengatakan jika batu terus di alirin dengan air
secara perlahan sehingga sedikit demi sedikit air pun bisa mengalir dengan lancar kembali, kami pun
seperti itu kami sempat tidak bisa menjalankan kegiatan ini dikarenakan kami sibuk
dengan tugas kami masing-masing hingga
tidak bisa meluangkan waktu untuk PIK-R SRIKANDI.
·
Kapan
PIK-R SRIKANDI (Siswa Rajin, Inovatif,
Kreatif Aktif dan Disiplin) terbentuk dengan adanya
lingkup naungan BK dan BPMP KB. PIK-R
SRIKANDI diresmikan oleh kepala sekolah pada tanggal 12 Oktober
2015.
·
Dimana
Keberadaan
PIK-R SRIKANDI yaitu di SMK Negeri 1 Sumenep tepatnya memiiki ruang secretariat dan
AD/ART.
·
Siapa
Salah satu Mahasiswa dari PIK-M Taneyan Lanjheng STKIP
PGRI Sumenep yang pada saat itu
sedang menjalankan tugas melakukan
Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) dengan pemikiran 7 Siswa-siswi
(Siti khadijah, suryanti, nurfadilah, igo prayogi, khalimatus sughro, yusuf
surgana putra)
·
Mengapa
Perubahan dan
perkembangan siklus dikalangan remaja sangat pesat baik perkembangan buruk
maupun baik, sehingga diperlukan beberapa gagasan untuk menjadi dasar dalam
pelaksanaan kegiatan dan menjawab segala dinamika remaja.
- Yang
pintar maka ditempatkan ditempat yang layak, yang berprestasi maka akan
ditempatkan dan ditampilkan dengan keistimewaan, lalu bagaimna dengan siswa
yang tidak berani menonjolkan dalam berkompetisi secara akademik dan non
akademik. Perlukah dibiarkan dan diasingkan ???,
- perkembangan
kriminalisasi diri bagi remaja, kurangnya pengetahuan dalam merencanakan masa
depan, kurangnya melatih diri untuk bisa menghindari beberapa resiko kesehatan
dan kurangnya layanan penempatan bagi siswa yang terasingkan untuk
mengaplikasikan kemampuan diri yang berbasis perkembangan remaja
- pentingnya
program GenRe yang berbasis penyiapan kehidupan dalam berkeluarga bagi remaja
untuk membantu guru pengajar dan guru BK guna menambah pengetahuan dan skills
siswa siswi inilah dasar sebabnya pendirian PIK-R SRIKANDI SMKN 1 Sumenep
dengan didukung berbagai intrumen kebutuhan siswa/remaja.
·
Bagaimana Prosesnya
Dengan
melihat betapa pentingnya wadah kegiatan PIK-R ini yang
berkembang
disegala sektor didukung dengan kebutuhan beserta indikator dasar keadaan
sekolah, maka mahasiswa
PIK-M Taneyan
Lanjhang STKIP PGRI Sumenep ini
kemudian mencari bibit-bibit unggul yang bisa digunakan sebagai motor penggerak
untuk
membantu mewujudkan gagasan tersebut, denga desain stimulus Lomba paduan
suara dalam rangka hari jadi kabupaten semenep dan dikembangkan dengan aksi
peduli korban asap diriau Sebagai bentuk pengenalan awal bagi
Siswa-siswi.
PIK-R di SMKN 1
Sumenep sebelumnya sudah pernah ada pada tahun 2014 yang disoslisasikan oleh
BMPB&KB kab. Sumenep hanya
saja masih vakum dan belum diresmikan keberadaannya oleh pihak sekolah,
sehingga hanguslah PIK-R. Namun
dirintis kembali oleh
Salah satu Mahasiswa dari PIK-M
Taneyan Lanjhang
STKIP PGRI Sumenep yang pada saat
itu sedang menjalankan tugas melakukan
Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di sekolah. dengan pemikiran 7 Siswa-siswi (Siti
khadijah, suryanti, nurfadilah, igo prayogi, khalimatus sughro, yusuf surgana
putra)
Bagus !!! , Boleh Tingkatkan pak Fajrul
BalasHapus